Museum Tsunami Aceh, Mengabadikan Dahsyatnya Kekuatan Alam

Jika Anda berkunjung ke Aceh sempatkanlah untuk mengunjungi Museum Tsunami. Museum Tsunami Aceh berada di pusat kota Banda Aceh, tidak begitu jauh dari Masjid Agung Baiturrahman. Museum Tsunami Aceh merupakan  museum yang dibangun untuk memperingati terjadinya peristiwa tsunami yang menghantam Propinsi Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang diperkirakan menewaskan sekitar 240.000 orang.

Untuk memperingatinya, di Aceh saat ini terdapat museum Tsunami Aceh yang akan mengingatkan pengunjung akan adanya bencana alam yang setiap saat dapat mengancam. Museum ini secara resmi dibuka untuk umum pada akhir bulan Februari 2009 sebagai pengingat akan adanya bencana yang monumental, dan juga untuk mengingat bahwa manusia tidak akan dapat lepas dari kekuatan Tuhan.


Fungsi Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai objek penelitian sejarah, di mana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana alam tsunami.
2. Sebagai simbol kekuatan dan ketabahan masyarakat Aceh saat menghadapi bencana tsunami.
3. Sebagai warisan bagi generasi masa depan di Aceh dalam bentuk pesan bahwa ada tsunami di daerah tersebut.
4. Mengingatkan akan adanya bahaya gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Ini karena Indonesia terletak di atas Ring Of Fire atau  “Cincin Api” Pasifik, sabuk gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Cekungan Pasifik. Daerah cincin api adalah daerah yang sering dilanda gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami.

Keunikan Museum Tsunami

Gedung Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa dari beberapa lembaga dan komite. Museum ini dirancang oleh seorang arsitek dari Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil adalah desain yang memenangkan kompetisi internasional yang diadakan pada 2007 untuk memperingati bencana tsunami 2004.

Museum Tsunami memiliki konsep orang Aceh dan sebagai referensi utama adalah nilai-nilai Islam, budaya lokal, dan abstraksi tsunami. Museum ini terdiri dari bangunan empat lantai dengan luas 2.500 m dengan dinding melengkung yang ditutupi dengan relief geometris. Jika dilihat dari atas, atapnya menyerupai tsunami. Lantai dasar dimodelkan pada jenis rumah tradisional Aceh yang ditinggikan yang paling siap untuk selamat dari tsunami. Jika dilihat dari samping, bentuk bangunannya mirip dengan bentuk kapal pesiar.

Saat berada di dalam, pengunjung masuk melalui lorong yang sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi - untuk menciptakan kembali atmosfer dan kepanikan selama tsunami. Dinding museum dihiasi dengan gambar orang-orang menari Saman, makna simbolis dari kekuatan, disiplin, dan kepercayaan suku Aceh. Dari atas, atap membentuk gelombang laut. Lantai dasar dirancang seperti rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Ruang-ruang di Museum Tsunami


Berikut adalah beberapa ruang di Museum Tsunami Aceh yang dapat dikunjungi.

The Dark Hallway
Begitu pengunjung memasuki museum, akan disambut oleh suasana lorong gelap di area bagian penerima tamu. Aula sempit dan tinggi dengan ketinggian hingga 40 meter. Ada efek jatuh air sehingga pengunjung kemungkinan akan sedikit basah.



Lorong sempit, gelap, dan tinggi dengan aliran air yang jatuh mengingatkan pengunjung akan suasana tegang ketika bencana Tsunami melanda.

Setelah melewati lorong gelap, berikutnya akan ada kamar yang cukup luas berisi gambar dan foto setelah bencana Tsunami. Ada gambar yang menunjukkan kerusakan dari bangunan hingga evakuasi korban.

Cahaya Tuhan
Setelah melewati ruang pameran, pengunjung akan diundang untuk memasuki ruangan gelap lagi. Ruangan ini disebut Cahaya Tuhan. Sama seperti nama-Nya, di ruang ini tulisan-tulisan Allah di atas akan ditemukan.



Tulisannya diterangi oleh cahaya dan menerangi ruangan gelap yang tampak seperti cerobong asap. Ruangan gelap ini berisi nama-nama korban Tsunami.

Kesan yang diperoleh dari ruang ini adalah kesan spiritual bahwa korban telah kembali kepada Tuhan dan menyiratkan bahwa Tuhan memiliki kuasa atas semua makhluk. Sehingga, tempat ini juga bisa dikatakan sebagai salah satu Tempat Wisata Religius di Aceh.

Jembatan Harapan

Pengunjung yang telah keluar dari kamar gelap The Light of Hope. akan melanjutkan perjalanan ke jalan yang berputar keluar dari cerobong asap. Kesan yang didapat adalah perjuangan melawan gelombang Tsunami yang menggulung berputar-putar.



Setelah itu, pintu keluar di Bridge of Hope akan ditampilkan di mana jembatan sedikit menanjak. Ada sekitar 52 bendera negara dari seluruh dunia. Negara-negara ini adalah sekumpulan negara yang telah membantu Indonesia pada saat bencana melanda.

Ada juga film dokumenter tentang bencana alam tsunami dengan durasi sekitar 15 menit. Anda dapat berkunjung ke sana untuk melihat film tersebut untuk lebih memahami situasi dan hal-hal yang berkaitan dengan Tsunami itu sendiri.

Itulah beberapa ruang utama Museum Tsunami Aceh sebagai salah satu Objek Wisata di Aceh yang dapat dikunjungi saat berada di sana. Selain itu ada fasilitas lain di sana seperti toko cinderamata, tempat makan, dan lain-lain.

Harga Tiket Masuk Museum Tsunami

Anda dapat mengunjungi Museum Tsunami di Aceh setiap hari kecuali hari Jumat, karena hari Jumat tutup. Jam mulai pukul 09.00 - 12.00 A.M dan akan dibuka lagi pada pukul 02.00 - 04.30 P.M. Berita baiknya adalah harga tiket masuk museum tsunami ini gratis. Sehingga museum tsunami ini dapat menjadi salah satu objek wisata yang direkomendasikan ketika mengunjungi Aceh.

Lokasi dan Akses Museum Tsunami

Lokasi Museum Tsunami cukup terjangkau oleh wisatawan karena posisinya masih berada di tengah kota. Tepatnya berdiri di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum karena lokasinya masih memungkinkan untuk dijangkau menggunakan transportasi umum.

Jika Anda menggunakan transportasi umum, Anda dapat menggunakan transportasi kota yang disebut Labi-Labi oleh penduduk setempat. Labi-Labi yang menuju ke Museum Tsunami adalah nomor 05, dengan trayek  jurusan Stasiun Punge - Ulee Lheu. Anda dapat menemukan Labi-Labi di pangkalan di Stasiun Keudah, yang berada di dekat Baiturrahman. Tarif Labi-Labi juga murah, yaitu hanya Rp4.000 per orang.

Jika Anda menggunakan bentor, becak bermotor, ongkosnya sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per becak. Harga ini bisa ditawar dengan pengemudi becak. Transportasi kota dan bentor dapat dipilih sesuai dengan selera masing-masing.

Itulah beberapa penjelasan tentang Museum Tsunami Aceh yang perlu diketahui. Semoga penjelasan di atas bermanfaat bagi Anda.

0 Response to "Museum Tsunami Aceh, Mengabadikan Dahsyatnya Kekuatan Alam "

Post a Comment

Penyakit Ikan Hias, Jenis, Penyebab dan Akibat

Jenis Penyakit Ikan Hias Peryakit yang timbul pada ikan hias biasanya timbul begitu saja tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Diperlukan keje...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel